EKOWISATA yang menarik di Pulau-Pulau Kecil Provinsi Maluku

PENGERTIAN DAN TUJUAN EKOWISATA

Definisi ekowisata yang pertama diperkenalkan oleh organisasi The Ecotourism Society (1990) sebagai berikut :

” Ekowisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat ” Semula ekowisata dilakukan oleh wisatawan pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari disamping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga.

Namun dalam perkembangannya ternyata bentuk ekowisata ini berkembang karena banyak digemari oleh wisatawan. Wisatawan ingin berkunjung ke area alami, yang dapat menciptakan kegiatan bisnis. Ekowisata kemudian didefinisikan sebagai berikut : Ekowisata adalah bentuk baru dari perjalanan bertanggungjawab ke area alami dan berpetualang yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999).

Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi. Apabila ekowisata pengelolaan alam dan budaya masyarakat yang menjamin kelestarian dan kesejahteraan, sementara konservasi merupakan upaya menjaga kelangsungan pemanfaatan sumberdaya alam untuk waktu kini dan masa mendatang.

Sementara itu destinasi yang diminati wisatawan ecotour adalah daerah alami. Kawasan konservasi sebagai obyek daya tarik wisata dapat berupa Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Wisata dan Taman Buru. Tetapi kawasan hutan yang lain seperti hutan lindung dan hutan produksi bila memiliki obyek alam sebagai daya tarik ekowisata dapat dipergunakan pula untuk pengembangan ekowisata.
Di dalam pemanfaatan areal alam untuk ekowisata mempergunakan pendekatan pelestarian dan pemanfaatan. Kedua pendekatan ini dilaksanakan dengan menitikberatkan “pelestarian” dibanding pemanfaatan. Kemudian pendekatan lainnya adalah pendekatan pada keberpihakan kepada masyarakat setempat agar mampu mempertahankan budaya lokal dan sekaligus meningkatkan kesejahteraannya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur conservation tax untuk membiayai secara langsung kebutuhan kawasan dan masyarakat lokal.

Ekowisata tidak melakukan eksploitasi alam, tetapi hanya menggunakan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik, dan psikologis wisatawan. Bahkan dalam berbagai aspek ekowisata merupakan bentuk wisata yang mengarah ke metatourism. Ekowisata bukan menjual destinasi tetapi menjual filosofi. Dari aspek inilah ekowisata tidak akan mengenal kejenuhan pasar.
Pengembangan ekowisata di dalam kawasan hutan dapat menjamin keutuhan dan kelestarian ekosistem hutan. Ecotraveler (Turis Ekowisata) menghendaki persyaratan kualitas dan keutuhan ekosistem. Oleh karenanya terdapat beberapa butir prinsip pengembangan ekowisata yang harus dipenuhi. Apabila seluruh prinsip ini dilaksanakan maka ekowisata menjamin pembangunan yang ecological friendly dari pembangunan berbasis kerakyatan (community based).

POTENSI DAN PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA ALAM LAUT (TWA) PULAU MARSEGU DAN SEKITARNYA.

Di Propinsi Maluku, Hutan Konservasi yang telah ditunjuk dan ditetapkan adalah sejumlah 12 unit Cagar Alam (satu diantaranya adalah Cagar Alam Laut), 3 unit Suaka Margasatwa, 1 Unit Taman Nasional dan 5 unit Taman Wisata (tiga diantaranya adalah Taman Wisata Laut). Kawasan Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya Kabupaten Seram Barat dengan luas sekitar 11.000 Ha ditetapkan sebagai Taman Wisata Laut Pada tanggal 05 – 03 – 1999 dengan SK Menhutbun No. 114/Kpts-II/1999. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Sedangkan Pulau Marsegu dengan luas 240,20 ha telah ditetapkan menjadi Kawasan Hutan Lindung sesuai Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 10327/Kpts-II/2002, tanggal 30 Desember 2002. Ekosistem perairan di Kawasan Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya (TWA) memiliki beberapa potensi, yang perlu dikelola dengan baik. Pembentukan kawasan konservasi dimaksudkan untuk pengelolaan sumberdaya hayati, yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan ketersediaan sumberdaya tersebut. Kawasan Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya (TWA) mengandung nilai konservasi yang tinggi. Hal ini mengacu pada data potensi terumbu karang, mangrove, lamun, rumput laut dan biota lain, seperti Lumba-lumba (mamalia laut) dan Penyu dari jenis Erelmochelys imbricata (Penyu Sisik) dan Chelonia mydas (Penyu Hijau). Beberapa biota laut yang unik, yang ditemukan juga di kawasan ini antara lain: Kelinci Laut (Nudibranch), Tunikata (Acidian) dan sejumlah besar Akar Bahar Kipas (Gorgonian). Oleh karena itu penataan kawasan di TWA sangat penting dan mendasar dalam rangka memelihara dan melestarikan keunikan dan kekayaan ekosistem yang ada.

terumbu karang
Terumbu Karang Taman Wisata Alam Laut

Pulau Marsegu dan sekitarnya Fungsi yang sangat mendasar Taman Wisata Alam Laut Pulau Marsegu dan sekitarnya yaitu:

  1. sebagai wahana konservasi sumberdaya hayati pesisir dan lautan, dalam rangka upaya perlindungan kawasan dan pelestarian sumberdaya yang ada
  2. sebagai wahana penelitian (research) dan pemantauan (monitoring) sumberdaya hayati, meliputi sarana dan prasaraana penelitian dan penyebarluasan informasi
  3. sebagai wahana partisipasi masyarakat dari segala lapisan, baik lokal maupun non-lokal dalam rangka pendidikan dan pembinaan yang berwawaasan linkungan, sehingga pembudayaan sadar dan cinta lingkungan dapat dicapai
  4. sebagai wahana pemanfaatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang meliputi kegiatan wisata alam dan usaha perikanan yang bersahabat dengan lingkungan.

Potensi sumberdaya alam yang dapat didayagunakan dalam kawasan TWA dan sekitarnya dapat dikelompokkan 2 katagori, yaitu kegiatan wisata dan non-wisata yang menunjang kegiatan wisata. Pendayagunaan potensi sumberdaya alam melalui kegiatan wisata antara lain : snorkling, scuba diving, perahu kaca dan perahu wisata biasa, pancing wisata, ski air, kawasan pendaratan penyu, areal pasir putih, areal kamping (camping ground), komplek persitirahat (bungalow) dengan latar belakang panorama laut. Sedangkan kegiatan non wisata, antara lain: Budidaya rumput laut, Budidaya/pembesaran ikan jaring apung, Penangkaran dan peneloran penyu, Perikanan tradisional di sekitar kawasan, Pendidikan dan Penelitian. Kegiatan-kegiatan tersebut ditata sedemikian rupa sehingga setiap kegiatan memiliki daerah tetrtentu, dengan mengacu pada zonasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Potensi sumberdaya alam yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu: (1) kegiatan wisata, (2) kegiatan non-wisata yang menunjang kegiatan wisata dan (3) kegiatan umum.

PENGEMBANGAN WISATA DI PULAU-PULAU KECIL

(PULAU MARSEGU)


Snorkling, scuba diving dan perahu kaca merupakan kegiatan yang menikmati pemandangan di bawah air. Pemandangan yang menarik itu meliputi hamparan terumbu karang, padang lamun dan rumput laut, ikan hias dan ikan karang, dan berbagai biota laut lain yang menghuni di bawah dan di dasar laut antara lain kelompok moluska (kerang-kerangan dan siput), coelenterata (ubur-ubur), ekhinodermata (bintang laut, bulu babi, teripang, lili laut dan “sand dollar”), mamalia air, reptilia (penyu). Aktivitas snorkling dapat dilakukan pada perairan yang relatif dangkal sehingga pemandangan bawah air masih dapat dinikmati dengan jelas. Sedangkan untuk perairan yang lebih dalam dapat dilakukan aktivitas scuba diving yang menggunakan alat selam lengkap seperti masker, snorkel, regulator, tabung udara, BCD (Buoyancy Compensator Device), sepatu koral, fin (‘kaki katak”) dan baju selam (jika perlu). Aktivitas snorkling dan scuba diving hendaknya dapat dilakukan pada daerah tertentu (daerah yang sama atau terpisah) yang dapat dikatagorikan indah dan aman bagi pengunjung. Selain itu penjelasan dan pengawasan terhadap pengunjung dilakukan secara efektif sehingga kerusakan terhadap komunitas biota dan ekosistem kawasan dapat dicegah semaksimal mungkin. Kegiatam snorkling dapat dilakukan di sekitar pinggiran Teluk Kotania dan beberapa pulau kecil lainnya seperti Pulau Osi, sepanjang hamparan datar (flat) hingga tubir. Sedangkan kegiatan scuba diving di perairan yang lebih dalam, yaitu mulai dari daerah tubir ke arah laut. Pemandangan bawah laut juga dapat dinikmati tanpa harus berenang, yaitu dengan menggunakan perahu kaca. Pengunjung dapat melihat dan menikmati pemandangan bawah air melalui kaca yang dipasang persis di bawah perahu. Lokasi aktivitas perahu kaca dipisahkan dengan lokasi aktivitas snorkling dan scuba diving, sehingga tidak saling mengganggu. Perahu kaca ini dapat memperkecil resiko kerusakan terumbu karang dan biota lainnya, karena tidak menyentuh dasar perairan sepanjang perahu tidak membuang sauh (jangkar) atau menabrak daerah terumbu karang yang dangkal. Lokasi yang baik adalah sepanjang batas tubir yang mempunyai kedalaman yang relatif dangkal sehingga pemandangan bawah laut masih jelas.

berperahu wisata alam
Berperahu di Kawasan Wisata Alam Laut
Pulau Marsegu dan sekitarnya

Aktivitas pancing wisata merupakan kegiatan memancing non profit yang menikmati suasana wisata. Kegiatan ini bukan merupakan kegiatan eksploitasi tetapi merupakan pemancingan terbatas pada daerah tertentu dimana populasi dan keanekaragaman ikannya masih cukup tinggi. Daerah yang direkomendasikan untuk kegiatan ini adalah di sebelah selatan pulau. Pemantauan dari kegiatan ini hendaknya dapat dilakukan dengan baik dalam usaha mencegah penurunan populasi ikan yang tinggi dan kemusnahan jenis. Pemantauan dapat dilakukan melalui pencacahan jumlah dan jenis ikan yang tertangkap, serta evaluasi komunitas ikan di alam.

hasil pancingan wisata alam
Hasil Pancingan di Kawasan Wisata Alam Laut

Kegiatan wisata laut lainnya yaitu ski air. Ski air dapat dilakukan pada daerah bebas ombak, dimana pengunjung dapat menikmati dengan meluncur di permukaan air. Aktivitas ini mempunyai resiko kecil terhadap kerusakan lingkungan. Namun demikian, kegiatan ini sebaiknya tidak dilakukan diatas habitat terumbu karang. Hal ini menghindari terinjaknya terumbu karang oleh peserta ski air sewaktu terjatuh ke dalam air. Di kawasan reef flat sebelah utara dan timur laut P. Marsegu ditemukan penyu (Penyu Sisik dan Penyu Hijau) yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penelitian dan rekreasi terbatas (hanya untuk kepentingan penelitian). Namun demikian, pengunjung yang diperbolehkan masuk ke kawasan penyu tidak boleh banyak, mengingat penyu sangat sensitif terhadap suara dan cahaya. Sedangkan di Pulau Marsegu sendiri menjadi habitat satwa kelelawar (Pteropus vampirus) dalam jumlah besar sehingga oleh masyarakat setempat dinamakan Pulau Marsegu atau Pulau Kelelawar. Selain Kelelawar dapat ditemui juga satwa-satwa yang dilindungi seperti Burung Gosong Megaphodius reinwardtii (Maleo) dan Kepiting Kelapa (Birgus latro) atau yang bahasa lokalnya disebut “kepiting kenari”. Masih banyak satwa burung lain yang menjadikan pulau ini sebagai habitat makan, bermain dan tidur.

vampirus birgus latro
Kelelawar (Pteropus vampirus)
Kepiting Kenari (Birgus latro)

Potensi alam non hayati yang dapat dimanfaatkan dan dinikmati oleh pengunjung adalah hamparan pantai pasir putih. Pasir putih ini merupakan suatu tempat dimana pengunjung dapat bermain-main pasir atau ombak, dan tempat istirahat sambil menikmati pemandangan laut atau sambil menjemur badan. Hal yang perlu diperhatikan di lokasi ini adalah sampah baik dari pengunjung atau pihak pengelola yang merupakan sumber pencemaran yang potensial. Selain itu perlu dijaga keutuhan estetika, seperti pemandangan, kebersihan dan sebagainya. Di Pulau Marsegu dan pulau-pulau di sekitarnya dapat dimanfaatkan sebagai areal kamping (camping ground) dan penginapan (bungalow). Khusus untuk areal kamping merupakan daerah terbuka dengan alam dimana sekelilingnya terdapat beberapa pohon. Sedangkan tempat penginapan/bungalow dapat dibangun di sekitar pantai, yaitu daratan setelah daerah pasang tertinggi atau rumah panggung diatas permukaan laut yang dangkal dan bebas ombak.

camping wisata alam
Kamping (camping ground) di Pulau Marsegu

Aksesibilitas ke Pulau Marsegu dari kota Ambon sebagai Ibu Kota provinsi dapat ditempuh melalui rute:

  • + Ambon – Hunimua. (Jalur darat)
  • + Hunimua – Waipirit (Pulau Seram) menggunakan Ferry (1,5 jam)
  • + Waipirit – Piru – Pelita Jaya. (Jalur darat ± 56 km)
  • + Pelita Jaya – Pulau Marsegu. (Jalur laut ± 5 km )

pulau marsegu
LOKASI PULAU MARSEGU


naik perahu
Naik Perahu – Seram Barat – Maluku. Dari Pulau Osi menuju Pulau Marsegu menggunakan “katinting” salah satu alat transportasi masyarakat pesisir.

PUSTAKA

Fandeli Chafid, dkk, 2000. Pengusahaan Ekowisata. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Anonimous, 1995, Penentuan Calon Kawasan Konservasi Laut di Pulau Marsegu dan sekitarnya. Provinsi Maluku. Dirjen Pembangunan Daerah Depdagri Bekerjasama dengan Direktorat Bina Kawasan Suaka Alam dan Konservasi Flora Fauna, Dephut. Jakarta.

Advertisements
Posted in ekowisata | Tagged , , , | Leave a comment

Mangrove Tanjung Batu Piru Seram Barat

Namanya juga “Tanjung Batu” jadi keadaan daerah ini dipenuhi oleh batu karang.  Jalan yang ditempuh dari jalan aspal harus menurun melewati batu-batu karang menuju kawasan pantai yang ditumbuhi juga oleh mangrove.

Mangrove di Tanjung Batu ini mempunyai jenis yang cukup beragam. Terdapat buah Rhizophora yang panjangnya sekitar 1 meter. Memang saat perjalanan dilakukan jenis ini sedang berbuah dengan jumlah yang banyak.

Buah Rhizophora

Buah Rhizophora

Sambil melangkah pada akar-akar mangrove Rhizophora yang cukup rapat melihat kiri kanan jenis-jenis yang ada.

Akar Rhizophora

Akar Rhizophora

Ternyata selain Rhizophora, ada jenis lain juga yang berbuah. Buah jenis Sonneratia ditemukan bertaburan di atas pasir. Buah berwarna hijau dengan kelopak seperti bintang.

Buah Sonneratia sp

Buah Sonneratia sp

Di samping buah-buah Sonneratia sp terdapat akar-akar napas Sonneratia yang muncul dipermukaan tanah. Akar-akar ini berfungsi dalam pernapasan tumbuhan mangrove pada habitat yang asin dan jenuh dengan air.

Akar Sonneratia sp

Akar Sonneratia sp

Di Tanjung Batu juga terdapat vegetasi pantai seperti Bintangur, Waru, Baringtonia, dll. Tetapi sayangnya ada orang yang menebangnya dan meninggalkan begitu saja.

Pohon Bintangur ditebang

Pohon Bintangur ditebang

Pohon Bintangur ditebang dan dibiarkan begitu saja, entah apa tujuan dari orang yang menebang pohon ini. Bijinya bertaburan disana-sini, tidak dimanfaatkan karena memang mereka tidak tahu memanfaatkannya dan mereka tidak tahu bahwa sekarang orang rame-rame membudidayakan pohon ini.

Biji Bintangur

Biji Bintangur

Bintangur sebagai salah satu jenis pohon yang bijinya dipakai untuk bahan bakar alternatif, banyak dibicarakan orang dan dibudidayakan untuk mendapatkan keuntungan finansial dan ekologis.

Di atas-atas pohon vegetasi pantai terdapat berbagai jenis Ephypit, yang tumbuh menumpang, agar mendapatkan cahaya matahari yang cukup.

Ephypit

Ephypit Sarang Burung

Akhirnya ditemukan suatu biji yang sedang berkecambah pada batu karang. Biji ini diamati terus…….. apa sih nama biji tersebut.

Benih Berkecambah

Benih Berkecambah

Tolong dong……..   informasinya….. apa sih .. nama biji atau benih ini … Thanks…

 

Artikel Terkait :

  1. Definisi Mangrove
  2. Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Mangrove
  3. Zonasi dan Syarat Pertumbuhan Mangrove
  4. Zonasi Hutan Mangrove Menurut Komposisi Jenis
  5. Jenis Perakaran Akar Nafas (Pneumatophore) Pada Hutan Mangrove.
  6. Suksesi Hutan Mangrove
  7. Manfaat Hutan Mangrove Teluk Kotania Kabupaten Seram Barat Maluku
  8. Jenis – Jenis Tumbuhan Mangrove
  9. Penyebaran Hutan Mangrove
  10. Struktur Hutan Mangrove
  11. Komposisi Jenis dan Zonasi Hutan Mangrove
  12. Zonasi Hutan Mangrove Andaman
  13. Sistim Silvikultur Hutan Mangrove
  14. Gambar-Gambar Hutan Mangrove
  15. Hutan Mangrove dan Manfaatnya
  16. Keanekaragaman Fauna pada Habitat Mangrove
  17. Perbanyakan Mangrove dengan Sistem Cangkok dalam Upaya Regenerasi Mangrove
  18. Konservasi Mangrove sebagai Pendukung Sumberhayati Perikanan Pantai
  19. Potensi Mangrove Sebagai Tanaman Obat
  20. Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove
  21. Pembuatan Tanaman Rehabilitasi Hutan Mangrove
  22. Vegetasi-vegetasi di Tepi Pantai.
  23. Manfaat Hutan dalam Perdagangan Karbon

 

Posted in hutan pantai, jalan-jalan, mangrove | Tagged , | 2 Comments

POHON AREN (Arenga pinnata) DAN MANFAATNYA DI NEGERI ETI

Jalan-jalan kali ini melihat Pohon Aren (Arenga pinnata) dan Manfaatnya bagi kehidupan masyarakat. Pohon Aren dengan jumlah yang banyak dapat ditemui di Negeri Eti. Kerapatan pohon aren yang tinggi sehingga bisa dikatakan “hutan Aren” karena daerah ini didominasi oleh Tumbuhan Aren.

Negeri Eti merupakan salah satu desa di Pulau Seram yang termasuk di dalam Kabupaten Seram Bagian Barat. Negeri Eti merupakan desa adat yang dipimpin oleh seorang Raja. Daerah petuanannya cukup luas dengan beberapa dusun dibawah Pemerintahan Raja Eti. Pulau Marsegu dalam kasawan Taman Wisata Alam Laut Provinsi Maluku juga termasuk di dalam petuanan negeri ini.

Selain itu,  Negeri Eti sejak dulu terkenal dengan komoditas yang dihasilkan dari pohon aren. Masyarakat memanfaatkannya pohon aren untuk berbagai kebutuhan.  Hasil sadapan nira aren dapat dimasak menjadi Gula Aren (Gula Merah), Buahnya menghasilkan “kolang-kaling” untuk campuran minuman dan makanan. Sedangkan batangnya dapat menghasilkan”pati” menjadi tepung sebagai sumber karbohidrat, namun pengolahan untuk menghasilkan produk-produk ini masih terbatas.

Pohon Aren (Arenga Pinnata)

Pohon Aren (Arenga Pinnata)


Pohon aren
di daerah ini banyak yang disadap niranya, kemudian dimanfaatkan melalui proses penyulingan menghasilkan minuman beralkohol yang disebut “Sopi“.

Sopi merupakan sumber penghasilan yang cukup lumayan untuk menopang kehidupan keluarga, bahkan bisa menunjang kebutuhan lain sampai pada biaya pendidikan anak-anak sampai ke perguruan tinggi. Hingga ada istilah “Sarjana Sopi” karena biaya pendidikan berasal dari hasil kegiatan tersebut.

Penyulingan Sopi

Penyulingan Sopi

Sadapan nira dari aren yang diambil disebut “sageru” kemudian sageru dimasukan ke dalam suatu wadah untuk dimasak menjadi sopi.

Pekerjaan penyadapan dari pohon aren hingga menjadi sageru dikenal dengan istilah “Tifar”. Untuk satu kali pekerjaan dari tifar hingga masak sopi, biasanya mereka tinggal di “walang sopi” selama 1 – 2 hari. Hasil yang mereka dapatkan dalam 2 hari berkisar Rp. 300 ribuan. Pekerjaan ini biasa dikerjakan bersama-sama sebanyak 2 orang. Kalo petani mempunyai jumlah pohon aren yang lebih banyak serta lebih rajin dalam bekerja maka pendapatan mereka bisa lebih tinggi.

Masak Sopi

Peralatan untuk Masak Sopi

Dalam penyulingan menghasilkan sopi dapat digunakan bermacam-macam perlengkapan, misalnya bambu dan juga plastik. Plastik dipakai supaya menghasilkan Sopi yang lebih bersih dan jernih.

Minum Sopi

Minum Sopi

Setiap melewati “walang sopi” jika pemiliknya sedang masak sopi pasti ditawari untuk mencicipi rasa sopi yang dihasilkan. Tapi ingat jangan sampai berlebihan, kalo berlebihan anda pasti akan mabuk dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Itulah sekilas cerita melihat pohon Aren dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat, terutama untuk penduduk di Negeri Eti, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku.

Posted in hutan, jalan-jalan | Tagged , , , | 1 Comment

Pohon Sagu Terbesar di Dunia

Sagu (Metroxylon sp) habitatnya di daerah rawa, hasil hutan non kayu yang sejak dari dulu sudah dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Di Maluku, Sagu tumbuh dengan sendirinya hutan-hutan rawa, pada daerah dataran rendah tumbuh di belakang hutan mangrove.

Menurut Flach and Schuiling (1991) kandungan Nutrisi (g) yang terdapat pada batang sagu adalah N = 590, P = 170, K = 1700, Ca = 860 dan Mg = 350. Pada saat pengolahan di lapangan nutrisi ini banyak hilang dan kembali ke tanah tempat tumbuhnya.

Seberapa besar pohon sagu itu? Bisa dilihat pada gambar berikut ini.

pohon sagu Piru
Pohon Sagu di Pinggir Jalan Piru

Ini adalah pohon sagu yang terdapat di Desa Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat. Di daerah ini ada pohon-pohon sagu yang tidak dimanfaatkan, ditinggalkan begitu saja hingga tua dan mati.

Ada Pohon sagu terbesar yang bisa dilihat, bila kita berpergian ke Negeri Eti, Kabupaten Seram Bagian Barat: Provinsi Maluku.. Tingginya kurang lebih 10 m dan diameter sebesar 250 cm.

Sagu Terbesar

Jika pohon sagu ini diperas patinya berapa ton sagu yang bisa dihasilkan?.

Bila diperhatikan secara seksama maka dapat diketahui bahwa itu bukanlah pohon sagu sungguhan tapi hanyalah sebuah menara gereja yang dibuat menyerupai pohon sagu.

Menara Gereja

Selain Pohon Sagu, Negeri Eti juga mempunyai populasi Pohon Aren (Arenga pinnata) yang melimpah.

Silahkan datang ke Negeri Eti dan Hitung sendiri berapa banyak pohon Sagu dan Aren yang ada di sana.

Posted in hutan, jalan-jalan | Tagged , , , , , | 1 Comment

Hutan Indonesia

HUTAN INDONESIA

Gambar Hutan diambil pada Daerah Taman Nasional Manusela, Pulau Seram. Maluku.

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau, tersebar dari Sabang hingga ke Merauke. Sejumlah besar (lebih dari 10.000 buah) dari pulau-pulau tersebut adalah merupakan pulau-pulau berukuran kecil, memiliki keanekaragaman tumbuhan, hewan jasad renik yang tinggi. Hal ini terjadi karena keadaan alam yang berbeda dari satu pulau ke pulau lainnya, bahkan dari satu tempat ke tempat lainnya dalam pulau yang sama.

Sistem perpaduan antara sumber daya hayati dan tempat hidupnya yang khas itu, menumbuhkan berbagai ekosistem, yang masing-masing menampilkan kekhususan pula dalam kehidupan jenis-jenis yang terdapat didalamnya. Sebagian besar hutan-hutan di Indonesia termasuk dalam Hutan Hujan Tropis, yang merupakan masyarakat hutan yang kompleks, terdapat pohon dari berbagai ukuran. Di dalam kanopi iklim mikro berbeda dengan keadaan sekitarnya; cahaya lebih sedikit, kelembaban sangat tinggi, dan temperatur lebih rendah. Pohon-pohon kecil berkembang dalam naungan pohon yang lebih besar, di dalam iklim mikro inilah terjadi pertumbuhan. Di dalam lingkungan pohon-pohon dengan iklim mikro dari kanopi berkembang juga tumbuhan yang lain seperti pemanjat, epifit, tumbuhan pencekik, parasit dan saprofit. Pohon-pohon dan banyak tumbuhan lain berakar menyerap unsur hara dan air dari dalam tanah.

Daun-daun yang gugur, ranting, cabang, dan bagian lainnya tersedia menjadi nutrisi untuk sejumlah inang hewan invertebrata, seperti rayap juga untuk jamur dan bakteri. Unsur hara dikembalikan ke tanah lewat pembusukan dari bagian yang gugur dan dengan pencucian daun-daun oleh air hujan. Ini merupakan ciri hutan hujan tropis persediaan unsur hara total sebagian besar terdapat dalam tumbuhan; relatif kecil disimpan dalam tanah (Withmore, 1975).

Keanekaragaman hayati yang sangat tinggi merupakan suatu koleksi yang unik dan mempunyai potensi genetik yang besar pula. Namun hutan yang merupakan sumberdaya alam ini telah mengalami banyak perubahan dan sangat rentan terhadap kerusakan. Sebagai salah satu sumber devisa negara, hutan telah dieksploitasi secara besar-besaran untuk diambil kayunya. Ekploitasi ini menyebabkan berkurangnya luasan hutan dengan sangat cepat. Keadaan semakin diperburuk dengan adanya konversi lahan hutan secara besar-besaran untuk lahan pertambangan, pemukiman, perindustrian, pertanian, perkebunan, peternakan serta kebakaran hutan yang selalu terjadi di sepanjang tahun.

KERUSAKAN HUTAN

Gambar diambil pada wilayah Seram Utara. Maluku.

Dampak dari eksploitasi ini adalah terjadinya banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Dengan demikian jelas terlihat bahwa fungsi hutan sebagai pengatur tata air telah terganggu dan telah mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada didalamnya.

Hutan sebagai ekosistem harus dapat dipertahankan kualitas dan kuantitasnya dengan cara pendekatan konservasi dalam pengelolaan ekosistem. Pemanfaatan ekosistem hutan akan tetap dilaksanakan dengan mempertimbangkan kehadiran keseluruhan fungsinya. Pengelolaan hutan yang hanya mempertimbangkan salah satu fungsi saja akan menyebabkan kerusakan hutan.

Irwanto, 2005.-

Posted in hutan | Tagged , , , | 3 Comments